Jumat, 27 Februari 2009

Prof. Sayyid Yaser Khomeini


Khomeini, Agama dan Dunia Kontemporer

Peran Imam Khomeini amat besar ketika Revolusi Islam mencapai kemenangan. Selain anti imperialisme, Imam merupakan tokoh Islam pertama yang mengajak perempuan berdemonstrasi.
Kamis, 12 Februari 2009, 10:30 WIB

VIVAnews - Revolusi Islam Imam Khomeini berperan besar dalam kehidupan kontemporer saat ini. Terutama, terhadap materialisme yang sempat mendominasi dan melakukan pemaksaan penerimaan suatu pemikiran. Pada saat itulah Imam mengajak masyarakat untuk bangkit berdasarkan pandangan agama untuk menghadapi dunia.

Memang, setiap ilmu memiliki metode tersendiri. Pentingnya metodologi menjadikan bidang ini menjadi sebuah mata kuliah, termasuk Islam yang memiliki metodologi sendiri.

Di masa lampau, terdapat metodologi terhadap pemahaman satu agama. Sebagian pihak meyakini bahwa sejarah suatu agama mencakup semuanya sehingga agama dapat memiliki fungsi dalam kehidupan. Sebagian yang lain, melihat metodologi dari ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran untuk melihat Islam itu sendiri.

Sebagian pihak mengenal Islam dari sudut pandang fiqih dan melihat bahwa Islam memiliki larangan, perintah dan pengambaran Tuhan. Dan itulah agama secara keseluruhan. Bagi kelompok lain yang ingin mengenal Islam, pendekatan filsafat digunakan sebagai cara. Pintu tasawuf juga digunakan oleh kelompok lain untuk mengenal dan mengetahui apa itu islam.

Puluhan tahun terakhir, ada kelompok lain yang menggunakan ilmu sebagai bukti bahwa agama memang dapat dijelaskan melalui ilmu tersebut. Metodologi yang telah disebutkan di atas, dapat menjelaskan hakikat sebuah agama.

Ini penting agar tidak menjadi hal yang menyesatkan. Imam Khomeini menyatakan bahwa banyak ulama yang ahli tidak memiliki hak untuk mengatakan bahwa agama sama dengan fiqih atau sebaliknya.

Begitu juga dalam buku lain yang mengenai tasawuf, Imam keberatan dengan para ulama yang mementingkan akhirat saja tanpa melihat kepentingan dunia. Sehingga setiap ayat dimaknai hanya untuk kepentingan akhirat saja. Dengan ilmunya, Imam memliki penjelasan yang lebih komprehensif.

Dalam tafsir, di awal revolusi Imam memiliki tafsir seperti surat Al-Fatihah yang diminati banyak orang. Dalam bidang filsafat, banyak yang menganggap ia anti terhadap filsafat, tapi Imam khomeini tetap maju.

Imam Khomeini juga memiliki kedekatan dengan bidang siar. Saat menyampaikan surat terhadap pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, Imam menganjurkan Gorbachev untuk mengenal Islam.

Bagi Imam Khomeini, berbagai aturan dan masalah adalah cara untuk mendidik manusia menjadi makhluk Ilahi. Menjalani kehidupan ini harus mengikuti ajaran yang ada di agama dalam berbagai aspek. Begitu juga untuk membentuk masyarakat ilahi.

Dan pada hari-hari seperti inilah Revolusi Islam mencapai kemenangannya.

Oleh karena itu, perkenankan saya mengutarakan empat poin penting pandangan Imam Khomeini:

Pertama, Imam anti pada kezaliman. Besarnya rasa itu membuat beliau senantiasa memerangi kezaliman tersebut. Imam juga menentang imperialisme juga saat orang-orang mengharapkan bantuan dari Barat ataupun Timur, sehingga ‘tidak Barat dan tidak Timur’ menjadi semboyannya.

Kedua, menjadikan orientasi gerakannya pada misi kerakyatan. Kepemimpinannya disebut dengan gerakan pragmatis, tidak meminta aspirasi dari rakyat. Begitu dia memimpin, ada referendum.

Ketiga, menghargai kedudukan wanita. Saat para ulama menganggap suara wanita adalah aurat bagi laki-laki, Imam mengajak para wanita untuk ikut berdemonstrasi dan menyampaikan suaranya. Imam juga memberi hak wanita untuk memilih dalam pemilu dan berkesempatan untuk memimpin.

Keempat, pandangan terhadap persatuan kaum muslimin. Bukan pandangan strategis dan taktik semata, namun benar-benar sebuah pandangan yang ingin dicapai.

Disarikan dari pidato Prof. Sayyid Yaser Khomeini, seorang cendekiawan, merupakan salah satu cucu mendiang pemimpin Revolusi Islam dan pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Khomeini. Ceramah ini disampaikan dalam Seminar Internasional bertema “Religion in the Contemporary World” di Kampus UIN Syarif Hidayatullah, 5 Februari 2009.

• VIVAnews

Tidak ada komentar: